agi indah nan tentram itu mesti datang dengan
kegemparan yang menyesakkan dada. Pagi yang harusnya dihargai penuh kasih. Pagi
yang harusnya mendamaikan dunia. Namun, pagi itu berbalik mencekam. Menggenaskan.
Indahnya pagi dibuat suram ketika sebuah Avanza putih menabrak seorang gepeng
(gembel-pengemis) paruh baya yang hendak menyebrang jalan di simpang empat
arah. Darah bersimbah di tiap sudut jalan. Berceceran mengotori jalan. Kepala
pecah memuncratkan isinya. Tragis! Kejadian itu membuat jalan macet.
Disesaki mobil motor yang akan memulai
aktivitas. Berkilo-kilo meter mobil berjejer. Suara bising klakson terus
berteriak menyuruh macet berhenti secepatnya.
Di
tempat kejadian. Seorang polisi dengan motornya tiba di TKP. Dengan sigap polisi itu mengamati dan
mengevakuasi TKP dengan seksama. Sayangnya, Si Pelaku sudah melarikan diri,
ketika pagi belum ramai. Buronan itu masih
berkeluaran di TKP. Warga setempat
tampak berkerumun, penasaran ingin melihat apa yang sedang terjadi. Wajah-wajah
tampak meringis melihat realita
yang ada di depan mereka.
“Kalian
kenal pengemis ini?”
“Orang
ini sepertinya bukan warga sini pak. Gepeng
ini suka pindah tempat. Beberapa kali aku melihatnya di daerah yang berlainan,”
Jawab seorang bapak paruh baya. Dari raut wajah dan pakaiannya yang tak terurus
dan janggutnya yang panjang tak beraturan
tampak sekali bahwa ia mirip dengan preman berwajah sangar. Ketika Polisi itu menganggukkan kepalanya, bapak
paruh baya tadi tampak kaget melihat wajah korban.
“Pak
polisi! Saya menemukan ini sebelum anda datang!” Tiba-tiba seorang anak
berpakaian kumal menerobos kerumunan dan memberikan sebuah plastik kotor penuh bercak darah kepada polisi itu.
Seketika polisi itu tersentak begitu melihat banyak dompet di plastik itu.
“Sepertinya
gepeng inilah yang sering membuat onar
di daerah ini hingga banyak terjadi kasus pencopetan di daerah ini, pelaku
seperti inilah yang selalu kami
cari-cari. Saya rasa, ada gembong yang memimpin para gepeng berpangkat copet di
daerah ini. Apa ada yang tahu, siapa
pelaku yang menabraknya?”
“Saat kejadian, pagi itu begitu sepi pak polisi.
Masih tentram.” Seorang warga
menyahut. Polisi itu lalu mengedarkan pandangannya ke segenap
kerumunan. Namun ia tak melihat lagi wajah laki-laki paruh baya berpenampilan
preman itu. Lalu terdengar sebuah teriakan dan terlhat kejar-kejaran.
***
Pada pagi yang
lain…
“Diam!
Sudah berapa kali kukatakan padamu, aku kerja di sebuah perusahaan nasional!”
Bentak ayahku. Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 namun rumah ini telah
berubah menjadi neraka. Meski luasnya rumah kami bak istana, semua
itu sama sekali tidak mencerminkan bahwa pemiliknya bahagia. Bahkan
mungkin sangat buruk. Seperti halnya keluarga kami, orang tuaku tanpa sebab
yang kuketahui selalu saja bertengkar.
“Tapi
beberapa kali aku telah datang ke perusahaan yang kau sebutkan, namun kau tidak
ada di sana. Jujurlah yah… dan mengapa juga kau sering datang larut malam!?”
“Ah!
Seharusnya kamu itu bersyukur, masih bisa bernafas dari penghasilanku! Jangan
ganggu aku lagi!” segera saja ayah
berlalu pergi keluar rumah. Entah kemana.
Sebenarnya aku sangat iba pada ibuku yang mulai
meneteskan air matanya perlahan, ibuku adalah seorang muslimah sejati. Makanya,
selalu saja ia bertanya akan pekerjaan suaminya itu, yang tak jelas di matanya.
Maaf saja, aku ceritakan bahwa ibu sering pergi ke pasar: mencari nafkah untuk
menghidupi diriku dan dirinya begitupun ayahku. Sedang uang dari ayahku selalu
ia simpan di lemari. Ia tak mau uang yang tak jelas halal haramnya. Ibu selalu
sabar. Beberapa kali ia selalu melihat ayah pulang dalam keadaan mabuk berat.
Karena itu, ia khawatir pada nafkah yang diberikan suaminya itu. Ibu selalu
berusaha agar ayahku berbicara. Sampai sekarang
aku masih heran, kami yang dulunya pas-pasan, dalam beberapa bulan saja telah
memiliki rumah bak istana. Bibit-bibit kebencian mulai tumbuh dalam diriku
kepada ayah. Dan suatu ketika aku
membuntuti ayah yang hendak pergi lagi dari rumah. Kulihat ia pergi ke suatu
daerah. Padahal, yang aku tahu daerah itu tempat kumpulnya preman, dan
sepengetahuanku disana berdiri sebuah
diskotik besar. Atau jangan-jangan… Ah, aku tak mau sangkaku ngawur.
Pagi
berikutnya. Pagi itu mungkin yang terburuk bagi kami. Karena tiba-tiba saja
serombongan polisi mendatangi rumahku.
Lantas mereka berkata bahwa mereka diperintahkan untuk menyegel rumahku.
“Pak,
tolong jangan sembarangan! Mungkin bapak salah alamat…. Tolong jelaskan dulu
pada kami, apa salah kami!?” tegasku pada seorang polisi. Ibuku tampak mulai
menangis. Tak tahan apa yang tengah disaksikannya.
“Begini
mas, ayah saudara, Pak Dewo, adalah salah satu bos terbesar dari sekelompok
gepeng, yang merangkap dua pekerjaan sekaligus, yaitu mencopet. Lalu, beberapa
hari yang lalu, Pak Dewo menabrak salah satu komplotan anggotanya yang sedang
menyebrang jalan. Ini adalah kasus tabrak lari. Kemudian, Pak Dewo merupakan
salah satu dari sekian gembong yang menjalankan bisnis penjualan anak dibawah
umur, di sebuah diskotik di daerah Venus Barat. Dan yang terakhir, ayah saudara
mempunyai hutang yang membengkak di sebuah bank, dan sampai sekarang belum
terlunasi. Padahal masa tenggang nya telah habis.”
Kini
aku tak bisa lagi menyangkal. Semua telah rinci dijelaskan oleh polisi tersebut,
seraya memberi bukti. Persendian lututku lemas. Ibuku tampak tak berhenti
menangis.
“Pak
Dewo telah kami amankan kemarin.” Aku lalu segera mengemas pakaianku dan
pakaian ibuku. Serta apa yang bisa akmi bawa. Kini ayahku tak bisa lagi
diharapkan. Ia telah masuk bui. Semoga saja ia sadar atas apa yang telah ia
perbuat. Aku pusing. Entah kemana langkah ini menuju….
***
Pagi
itu aku pulang dengan hati kacau. Beberapa kali aku kehabisan uang di atas meja
judi. Semalaman suntuk aku bertarung. Namun kekalahan selalu menemaniku. Hingga
akhirnya aku selalu meminjam di bank. Bahkan aku sekarang sudah punya anggota
sekian gepeng yang berpangkat sebagai copet. Dan lebih dari itu. Sekarang, aku
adalah preman yang menjajakan anak di bawah umur ke luar negeri. Yah, inilah
aku. Yang dulunya patuh dan anti melanggar agama, namun kini semuanya terbalik.
Tidak terkendali. Ibuku telah tiada. Ia meninggal dunia karena derita kelaparan
semenjak diusir dari rumah yang disita polisi. Sedang ayahku masuk bui
gara-gara perbuatan keji dan jahatnya. Entah dimana ia sekarang…. Mungkin ia
telah bebas. Aku tak ambil pusing, aku masih kesal padanya, gara-gara dialah
hidupku berantakan.
Namun,
semenjak ibuku meninggal, Keberuntungan
rasanya menyertaiku. Aku bertemu teman lama, ia pun menawarkan pekerjaan
padaku. Aku kaget ketika ia menawarkan sebuah pekerjaan yang menurut
pandanganku sangatlah keji : menculik dan menjual anak dibawah umur! Mulanya
aku menolak dan membantah. Aku seorang muslim dan sangat membenci perbuatan
itu. Namun, karena halusnya rayuan dan ekonomi yang menjepit, entah mengapa
hati ini manut dan nurut. Sampai diriku seperti ini: bergelimang dosa gelap dan
kelam. Telah bertahun-tahun aku menjalani semua ini. Aku merasa hidupku tak ada
bedanya dengan ayah. Ah! Tak pantas ia kusebut ayah. DEWO! Yah, aku harus
memanggilnya Dewo atau bahkan Anjing! Tapi, bagaimanapun juga dialah yang
membesarkanku.
Dan
sekarang, , aku hendak pulang dengan perasaan kalut. Hutangku sudah membengkak
di bank. Karena masalah itulah, konsentrasi menyetirku jadi tidak seimbang.
Hingga akhirnya, seorang gepeng menyebrang jalan. Mobilku yang sedang ngebut
jadi tak terkendali. Klakson terus kupencet tapi sepertinya pengemis itu tak
mendengar. Hinggga akhirnya… kejadian yang tak kuharapkan itu terjadi.
“BBRRRRUUUAAAKKK!!!
CIIIT!!!” Mobil behenti setelah gepeng itu terpental sejauh 5 meter!
Persimpangan empat arah itupun penuh darah bersimbah. Aku panik, entah apa yang
akan kuperbuat. Tanpa pikir panjang, aku kabur ke warung kopi terdekat, sebelum
pagi menjadi ramai. Sepi pagi itu sedikit membuatku tenang, lalu tampak di
depan mataku, orang-orang berkerumun di sana. Mobil dan motorpun memadati
jalan. Klakson terus berbunyi. Karena tak mau dicurigai, aku pura-pura tidak
tahu dan mendatangi TKP dengan muka tanpa dosa. Lalu datang polisi, seraya
mengamati mayat tersebut.
“Kalian
kenal pengemis ini?”
“Gepeng
ini bukan warga sini pak. Aku sering melihatnya berpindah tempat,” jawabku
tanpa dosa. Aku hanya ingin mereka tidak mencurigaiku. Sekilas aku memperhatikan
wajah gepeng yang kutabrak. DEG! Sepertinya aku kenal wajah itu. Wajah yang
kubenci. Wajah yang membuatku sengsara. Itu adalah ayahku! Hatiku penuh sesal.
Tak menyangka. Mengenaskan. Namun, rasa amarahku masih belum padam. Lalu,
diam-diam aku keluar dari kerumunan. Aku
lari sekuat tenaga, sebelum akhirnya seorang wanita berteriak ke arahku.
“ITU!!!
ITU DIA PELAKUNYA!!! AKU MELIHATNYA KABUR SETELAH MENABRAK ORANG INI!
TANGKAAAP!” Tampak orang-orang mulai mengejarku. Aku berlari sekuat tenaga,
sebelum akhirnya kepalaku serasa dihantam sebongkah batu besar. Dan seketika
duniapun gelap…. Aku sekarang terkapar. Dihajar masa. Sebelum itu, aku sempat
berpikir. Apakah ini laknat? Sehingga seorang bapak harus mati ditangan
anaknya? Seperti halnya kakekku yang telah lama hilang ditabrak ayah? Dan,
apakah nanti aku juga harus mati di tangan anakku yang sedang menungguku pulang
bersama istriku di rumah? Entah…. !
Nb: pernah terbit di buletin Senja edisi 13 dengan
judul “Pagi Kelam datang lagi”