Rabu, 15 Agustus 2012

PUISI UNTUK KALIAN


puisi ini kubuat untuk kalian wahai jiwa kesalahpahaman
puisi ini kutulis untuk para ahli ibadah yang terhasud syaitan
puisi ini kupersembahkan hanya untuk kalian
                        bagaimana tidak, anak cucumu telah kering oleh airmata yang sekian lama terserap
            lakumu
                        bagaimana tidak, watakmu meresahkan jiwa awam yang tak kunjung mengerti akan
                        lakumu yang terkadang aneh diatas mimbar
lalu untuk apa kau acungkan jari tengahmu ditengah pembangunan  
            masjid itu; kami tahu dia kecil
                        masjid itu; kami tahudia lemah tak berdaya dinista dan dicaci hingga meretakkan tali
                        persaudaraan kita
            masjid itu; kami tahu ia bercucuran  airmata perih hatinya menyaksikan darah
                        tercecar dan membanjiri begitu saja di persimpangan  jarak kita
lalu untuk apa kau bangun tembok penghalang di
                        pekarangan rumahmu yang memerah bercak darah
            pekarangan rumahmu yang dipenuhi bibi kebencian
     lalu untuk apa, bagaimana tidak, lantaran masjid itu
puisi ini kubuat untuk kalian....
                                                      (15 hari setelah kunjungan ibunda...) 

Selasa, 14 Agustus 2012

KARMA






P
agi  indah nan tentram itu mesti datang dengan kegemparan yang menyesakkan dada. Pagi yang harusnya dihargai penuh kasih. Pagi yang harusnya mendamaikan dunia. Namun, pagi itu berbalik mencekam. Menggenaskan. Indahnya pagi dibuat suram ketika sebuah Avanza putih menabrak seorang gepeng (gembel-pengemis) paruh baya yang hendak menyebrang jalan di simpang empat arah. Darah bersimbah di tiap sudut jalan. Berceceran mengotori jalan. Kepala pecah memuncratkan isinya. Tragis! Kejadian itu membuat jalan macet. Disesaki  mobil motor yang akan memulai aktivitas. Berkilo-kilo meter mobil berjejer. Suara bising klakson terus berteriak menyuruh macet berhenti secepatnya.
Di tempat kejadian. Seorang polisi dengan motornya tiba di TKP.  Dengan sigap polisi itu mengamati dan mengevakuasi TKP dengan seksama. Sayangnya, Si Pelaku sudah melarikan diri, ketika pagi belum ramai.  Buronan itu masih berkeluaran di TKP. Warga setempat  tampak berkerumun, penasaran ingin melihat apa yang sedang terjadi.  Wajah-wajah  tampak meringis melihat realita  yang ada di depan mereka.
“Kalian kenal pengemis ini?” 
“Orang ini sepertinya bukan warga sini pak. Gepeng  ini suka pindah tempat. Beberapa kali aku melihatnya di daerah yang berlainan,” Jawab seorang bapak paruh baya. Dari raut wajah dan pakaiannya yang tak terurus dan janggutnya yang panjang tak beraturan  tampak sekali bahwa ia mirip dengan preman berwajah sangar. Ketika  Polisi itu menganggukkan kepalanya, bapak paruh baya tadi tampak kaget melihat wajah korban.
“Pak polisi! Saya menemukan ini sebelum anda datang!” Tiba-tiba seorang anak berpakaian kumal menerobos kerumunan dan memberikan  sebuah plastik kotor  penuh bercak darah kepada polisi itu. Seketika polisi itu tersentak begitu melihat banyak dompet di plastik itu.
“Sepertinya gepeng  inilah yang sering membuat onar di daerah ini hingga banyak terjadi kasus pencopetan di daerah ini, pelaku seperti  inilah yang selalu kami cari-cari. Saya rasa, ada gembong yang memimpin para gepeng berpangkat copet di daerah ini. Apa  ada yang tahu, siapa pelaku yang menabraknya?”
“Saat  kejadian, pagi itu begitu sepi pak polisi. Masih tentram.”  Seorang warga menyahut.  Polisi  itu lalu mengedarkan pandangannya ke segenap kerumunan. Namun ia tak melihat lagi wajah laki-laki paruh baya berpenampilan preman itu. Lalu terdengar sebuah teriakan dan terlhat kejar-kejaran.
***
Pada pagi yang lain…
“Diam! Sudah berapa kali kukatakan padamu, aku kerja di sebuah perusahaan nasional!” Bentak ayahku. Waktu masih menunjukkan pukul 05.30 namun rumah ini telah berubah menjadi neraka. Meski luasnya rumah kami bak  istana, semua  itu sama sekali tidak mencerminkan bahwa pemiliknya bahagia. Bahkan mungkin sangat buruk. Seperti halnya keluarga kami, orang tuaku tanpa sebab yang kuketahui selalu saja bertengkar.
“Tapi beberapa kali aku telah datang ke perusahaan yang kau sebutkan, namun kau tidak ada di sana. Jujurlah yah… dan mengapa juga kau sering datang larut malam!?”
“Ah! Seharusnya kamu itu bersyukur, masih bisa bernafas dari penghasilanku! Jangan ganggu aku lagi!”  segera saja ayah berlalu pergi keluar rumah. Entah kemana.
Sebenarnya  aku sangat iba pada ibuku yang mulai meneteskan air matanya perlahan, ibuku adalah seorang muslimah sejati. Makanya, selalu saja ia bertanya akan pekerjaan suaminya itu, yang tak jelas di matanya. Maaf saja, aku ceritakan bahwa ibu sering pergi ke pasar: mencari nafkah untuk menghidupi diriku dan dirinya begitupun ayahku. Sedang uang dari ayahku selalu ia simpan di lemari. Ia tak mau uang yang tak jelas halal haramnya. Ibu selalu sabar. Beberapa kali ia selalu melihat ayah pulang dalam keadaan mabuk berat. Karena itu, ia khawatir pada nafkah yang diberikan suaminya itu. Ibu selalu berusaha agar ayahku berbicara.  Sampai sekarang aku masih heran, kami yang dulunya pas-pasan, dalam beberapa bulan saja telah memiliki rumah bak istana. Bibit-bibit kebencian mulai tumbuh dalam diriku kepada ayah.  Dan suatu ketika aku membuntuti ayah yang hendak pergi lagi dari rumah. Kulihat ia pergi ke suatu daerah. Padahal, yang aku tahu daerah itu tempat kumpulnya preman, dan sepengetahuanku disana berdiri  sebuah diskotik besar. Atau jangan-jangan… Ah, aku tak mau sangkaku ngawur.
Pagi berikutnya. Pagi itu mungkin yang terburuk bagi kami. Karena tiba-tiba saja serombongan polisi mendatangi  rumahku. Lantas mereka berkata bahwa mereka diperintahkan untuk menyegel rumahku.
“Pak, tolong jangan sembarangan! Mungkin bapak salah alamat…. Tolong jelaskan dulu pada kami, apa salah kami!?” tegasku pada seorang polisi. Ibuku tampak mulai menangis. Tak tahan apa yang tengah disaksikannya.
“Begini mas, ayah saudara, Pak Dewo, adalah salah satu bos terbesar dari sekelompok gepeng, yang merangkap dua pekerjaan sekaligus, yaitu mencopet. Lalu, beberapa hari yang lalu, Pak Dewo menabrak salah satu komplotan anggotanya yang sedang menyebrang jalan. Ini adalah kasus tabrak lari. Kemudian, Pak Dewo merupakan salah satu dari sekian gembong yang menjalankan bisnis penjualan anak dibawah umur, di sebuah diskotik di daerah Venus Barat. Dan yang terakhir, ayah saudara mempunyai hutang yang membengkak di sebuah bank, dan sampai sekarang belum terlunasi. Padahal masa tenggang nya telah habis.”
Kini aku tak bisa lagi menyangkal. Semua telah rinci dijelaskan oleh polisi tersebut, seraya memberi bukti. Persendian lututku lemas. Ibuku tampak tak berhenti menangis.
“Pak Dewo telah kami amankan kemarin.” Aku lalu segera mengemas pakaianku dan pakaian ibuku. Serta apa yang bisa akmi bawa. Kini ayahku tak bisa lagi diharapkan. Ia telah masuk bui. Semoga saja ia sadar atas apa yang telah ia perbuat. Aku pusing. Entah kemana langkah ini menuju….

***
Pagi itu aku pulang dengan hati kacau. Beberapa kali aku kehabisan uang di atas meja judi. Semalaman suntuk aku bertarung. Namun kekalahan selalu menemaniku. Hingga akhirnya aku selalu meminjam di bank. Bahkan aku sekarang sudah punya anggota sekian gepeng yang berpangkat sebagai copet. Dan lebih dari itu. Sekarang, aku adalah preman yang menjajakan anak di bawah umur ke luar negeri. Yah, inilah aku. Yang dulunya patuh dan anti melanggar agama, namun kini semuanya terbalik. Tidak terkendali. Ibuku telah tiada. Ia meninggal dunia karena derita kelaparan semenjak diusir dari rumah yang disita polisi. Sedang ayahku masuk bui gara-gara perbuatan keji dan jahatnya. Entah dimana ia sekarang…. Mungkin ia telah bebas. Aku tak ambil pusing, aku masih kesal padanya, gara-gara dialah hidupku berantakan.
Namun, semenjak ibuku meninggal, Keberuntungan  rasanya menyertaiku. Aku bertemu teman lama, ia pun menawarkan pekerjaan padaku. Aku kaget ketika ia menawarkan sebuah pekerjaan yang menurut pandanganku sangatlah keji : menculik dan menjual anak dibawah umur! Mulanya aku menolak dan membantah. Aku seorang muslim dan sangat membenci perbuatan itu. Namun, karena halusnya rayuan dan ekonomi yang menjepit, entah mengapa hati ini manut dan nurut. Sampai diriku seperti ini: bergelimang dosa gelap dan kelam. Telah bertahun-tahun aku menjalani semua ini. Aku merasa hidupku tak ada bedanya dengan ayah. Ah! Tak pantas ia kusebut ayah. DEWO! Yah, aku harus memanggilnya Dewo atau bahkan Anjing! Tapi, bagaimanapun juga dialah yang membesarkanku.
Dan sekarang, , aku hendak pulang dengan perasaan kalut. Hutangku sudah membengkak di bank. Karena masalah itulah, konsentrasi menyetirku jadi tidak seimbang. Hingga akhirnya, seorang gepeng menyebrang jalan. Mobilku yang sedang ngebut jadi tak terkendali. Klakson terus kupencet tapi sepertinya pengemis itu tak mendengar. Hinggga akhirnya… kejadian yang tak kuharapkan itu terjadi.
“BBRRRRUUUAAAKKK!!! CIIIT!!!” Mobil behenti setelah gepeng itu terpental sejauh 5 meter! Persimpangan empat arah itupun penuh darah bersimbah. Aku panik, entah apa yang akan kuperbuat. Tanpa pikir panjang, aku kabur ke warung kopi terdekat, sebelum pagi menjadi ramai. Sepi pagi itu sedikit membuatku tenang, lalu tampak di depan mataku, orang-orang berkerumun di sana. Mobil dan motorpun memadati jalan. Klakson terus berbunyi. Karena tak mau dicurigai, aku pura-pura tidak tahu dan mendatangi TKP dengan muka tanpa dosa. Lalu datang polisi, seraya mengamati mayat tersebut.
“Kalian kenal pengemis ini?”
“Gepeng ini bukan warga sini pak. Aku sering melihatnya berpindah tempat,” jawabku tanpa dosa. Aku hanya ingin mereka tidak mencurigaiku. Sekilas aku memperhatikan wajah gepeng yang kutabrak. DEG! Sepertinya aku kenal wajah itu. Wajah yang kubenci. Wajah yang membuatku sengsara. Itu adalah ayahku! Hatiku penuh sesal. Tak menyangka. Mengenaskan. Namun, rasa amarahku masih belum padam. Lalu, diam-diam aku keluar dari kerumunan. Aku  lari sekuat tenaga, sebelum akhirnya seorang wanita berteriak ke arahku.
“ITU!!! ITU DIA PELAKUNYA!!! AKU MELIHATNYA KABUR SETELAH MENABRAK ORANG INI! TANGKAAAP!” Tampak orang-orang mulai mengejarku. Aku berlari sekuat tenaga, sebelum akhirnya kepalaku serasa dihantam sebongkah batu besar. Dan seketika duniapun gelap…. Aku sekarang terkapar. Dihajar masa. Sebelum itu, aku sempat berpikir. Apakah ini laknat? Sehingga seorang bapak harus mati ditangan anaknya? Seperti halnya kakekku yang telah lama hilang ditabrak ayah? Dan, apakah nanti aku juga harus mati di tangan anakku yang sedang menungguku pulang bersama istriku di rumah? Entah…. !
                Nb: pernah terbit di buletin Senja edisi 13 dengan judul “Pagi Kelam datang lagi”